5 Ciri Guru Yang Buruk

September 26, 2018
Berikut yakni lima kesalahan guru saat mengajar yang bisa menjadikan kegagalan siswa mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. 
 
Kesalahan #1. Berpikir Egosentris. Ini kesalahan paling fundamental yang benar-benar kurang disadari oleh guru. Kesalahan ini juga akan berdampak pada timbulnya kesalahan-kesalahan lain. Pernahkah Anda mendengar keluhan mirip ini, “Saya sudah bersungguh-sungguh mengajar kelas ini tetapi kesannya sangat mengecewakan!” Atau keluhan yang ini, “Anak ini lho, sudah dijelaskan berkali-kali tetap saja tidak mengerti!” Dua teladan keluhan tersebut mengatakan bahwa guru yang bersangkutan berpikir egosentris, hanya berdasarkan dirinya sendiri. Ya, berdasarkan guru itu, beliau sudah mengajar dengan sungguh-sungguh atau sudah menjelaskan berkali-kali. Dia tidak berpikir ihwal kasus yang dihadapi oleh siswa saat mengikuti pembelajaran sehingga tidak berhasil. Jangan-jangan alasannya yakni guru tidak bisa berkomunikasi secara runtut dengan bahasa yang gampang dipahami? Atau, mungkin gaya mencar ilmu siswa visual dan kinestetik tetapi tidak dipenuhi oleh guru, sehingga gaya mengajar guru tidak acceptable bagi siswa?
Kesalahan #2. Tidak Peka Terhadap Perubahan Suasana Kelas. Dalam proses pembelajaran, wajib hukumnya seorang guru mengendalikan kelas. Sepenuhnya! Hal ini penting biar proses pembelajaran berjalan lancar. Kita tahu bahwa kelas terdiri atas aneka macam karakter. Oleh alasannya yakni itu harus diupayakan biar abjad yang bermacam-macam itu sanggup diorkestrasikan menuju terwujudnya simponi pembelajaran yang yummy dinikmati. Diorkestrasikan menuju simponi pembelajaran yang yummy dinikmati, artinya bahwa seluruh potensi kelas (siswa) harus diberdayakan untuk saling membantu sehingga terwujud keberhasilan bagi setiap individu. Dengan demikian rata-rata prestasi kelas menjadi tinggi. Contoh ketidakpekaan guru saat mengajar contohnya membiarkan badut kelas mengalihkan perhatian siswa yang sedang asyik mengikuti klarifikasi guru sehingga konsentrasi kelas menjadi terpecah. Atau membiarkan siswa yang tidak tertib mengganggu konsentrasi siswa lain yang sedang belajar. Hal ini sepertinya duduk kasus kecil, tetapi bila tidak segera dibenahi bisa berakibat kegagalan seluruh kelas. Ini terkait dengan administrasi kelas. Maka dalam hal ini seorang pendidik perlu melengkapi diri dengan pemahaman karakteristik masing- masing murid serta pemahaman nilai- nilai pemahaman pengelolaan administrasi kelompok belajar. Dan hal terpenting yakni bagaimana seorang pendidik bisa menempatkan ketegasan pada akseptor didik, tanpa harus dibumbui dengan sikap anarkis dan destruktif yang justru menciptakan akseptor didik enggan untuk kembali pada suasana pembelajaran selanjutnya.
Kesalahan #3. Komunikasi Tidak Efektif. Contoh komunikasi tidak efektif (guru ingin mengingatkan biar siswa mengerjakan PR yang diberikan), “Anak-anak, awas jangan lupa lho dengan PR kamu. Kamu kerjakan semuanya. Kalau kau tidak mengerjakan PR kamu, maka besok tidak akan mendapat nilai dari bu guru.” Kenapa tidak dikatakan saja mirip ini, “Anak-anak, ingat, kerjakan PR-mu. Semuanya! Besok Ibu nilai.” Bukankah bahasa yang kedua lebih irit, dan karenanya lebih efektif. Jadi, saat kita bermaksud meminta sesuatu, katakan saja secara sempurna apa yang kita maksudkan. Kalau anak disuruh diam, ya katakan, “Anak-anak, diam!” Kalau bawah umur disuruh memperhatikan klarifikasi guru, ya katakan saja,“Anak-anak, lihat ini!” dan semacamnya. Menghindari bahasa yang berlebih-lebihan atau bahkan mengancam, mengintimidasi akseptor didik hanya akan membuahkan sindrom ketakutan bagi akseptor didik disatu sisi, disisi yang lain hanya akan menjustifikasi diri kita sebagai seorang guru yang diktator dan otoriter. Penggunaan bahasa yang efektif akan membuahkan sikap proaktif dari akseptor didik untuk selalu fokus dan terbiasa untuk melaksanakan perkataan, perbuatan yang efektif dan efisien.
Kesalahan #4. Mengajar Tanpa Persiapan. Berbicara mengenai persiapan mengajar, saya teringat seorang teman yang berkata begini, “Ingin berhasil dalam mengajar, buat persiapan secara matang!” Persiapan mengajar itu menyerupai skenario dalam film. Tidak akan ada film yang baik dan yummy ditonton tanpa skenario yang baik. Begitu pula, tidak akan ada pembelajaran yang berhasil tanpa persiapan yang benar. Kebanyakan guru (kabarnya) enggan menciptakan persiapan secara benar. Akibatnya, pembelajaran di kelas berlangsung seolah tanpa arah. Padahal, guru itu seorang profesional. Salah satu ciri keprofesionalan seorang guru yakni menyusun perencanaan pembelajaran secara benar. Saya percaya Anda akan memperbaiki kesalahan Anda dalam mengajar (kalau kemarin-kemarin tidak menciptakan persiapan yang benar), sehingga hasil pembelajaran siswa benar-benar menggembirakan semua komponen (yang terkait dengan pembelajaran Anda). Selain itu diharapkan kesiapan tumpuan yang setidaknya berkaitan dengan apa yang hendak kita diskusikan keesokkan harinya, yakni suatu yang naif apabila seorang guru tidak melek informasi dan melek teknologi, setidaknya jangan hingga terjadi yakni situasi one step behind, guru kalah penguasaan materi dan tumpuan dengan pemahaman yang dimiliki oleh akseptor didik tatkala pembelajaran berlangsung.
Kesalahan #5. Tidak Melakukan Evaluasi Menyeluruh. Evaluasi pembelajaran harus dilakukan secara menyeluruh. Kalau Anda pernah menciptakan skripsi ihwal penelitian kuantitatif, Anda niscaya ingat bahwa instrumen yang Anda gunakan harus diuji validitas dan reliabilitasnya. Instrumen penilaian pembelajaran pun bahwasanya harus diuji validitas dan reliabilitasnya. Instrumen penilaian harus valid dan reliable. Tetapi untuk bahasan ini, kita tidak akan sedetail saat menyusun skripsi. Arti menyeluruh di sini yakni bahwa penyusunan soal penilaian pembelajaran minimal harus meliputi bentuk-bentuk seperti: pilihan ganda, isian, tanggapan singkat. Tidak hanya pilihan ganda saja, atau isian saja. Materinya meliputi seluruh materi yang diajarkan (minimal satu kompetensi dasar).

Kata kuncinya: Apabila terdapat kegagalan siswa dalam pembelajaran, maka di situlah guru perlu melaksanakan introspeksi: sudah benarkah yang beliau lakukan? Kemudian dilanjutkan: apa yang bisa beliau lakukan untuk memperbaiki keadaan?Jadi, guru harus selalu mencar ilmu dan belajar, dan yang mesti dipahami oleh sesama rekan-rekan pendidik yakni perlunya pengorbanan (sacrifice) dalam menuntut ilmu bagi diri kita, Semoga bermanfaat bagi diri saya peribadi sekaligus bagi rekan-rekan guru

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

Tidak ada komentar