Kesalahan Fatal Guru Dalam Mengajar

September 26, 2018
 
Dalam praktek pendidikan sehari-hari, masih banyak guru yang melaksanakan kesalahan-kesalahan dalam menunaikan kiprah dan fungsinya. Kesalahan-kesalahan tersebut sering kali tidak sadari oleh para guru, bahkan masih banyak diantaraya yang menganggap hal biasa. Padahal sekecil apapun kesalahan yang dilakukan guru, khususnya dalam pembelajaran akan berdampak negative terhadap perkembangan akseptor didik. Sebagai insan biasa, tentu saja guru tidak akan terlepas dari kesalahan baik dalam melaksanakan kiprah pokok mengajar. Namun bukan berarti kesalahan guru harus dibiarkan dan tidak diacarikan cara pemecahannya.
 Guru harus bisa memahami kondisi-kondisi yang memungkinkan dirinya berbuat salah, dan yang paling penting yaitu mengendalikan diri serta menghindari dari kesalahan-kesalahan.

Menurut E. Mulyasa (2011:19) dari banyak sekali hasil kajian mengambarkan bahwa sedikitnya terdapat tujuh kesalahan yang sering dilakukan guru dalam permbelajaran, yaitu ;

1.      Mengambil Jalan Pintas Dalam Pembelajaran
Tugas guru paling utama yaitu mengajar, dalam pengertian menata lingkungan semoga terjadi acara mencar ilmu pada akseptor didik. Berbagai perkara mengambarkan bahwa diatara para guru banyak yang merasa dirinya sudah sanggup mengajar dengan baik, meskipun tidak sanggup mengambarkan ganjal an yang mendasari perkiraan itu.

Asumsi keliru tersebut seringkali menyesatkan dan menurunkan kreatifitas, sehinga banyak guru yang suka mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi.

 Agar tidak tergiur untuk mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, guru hendaknya memandang pembelajaran sebagai suatu system, yang jikalau salah satu komponennya terganggu, maka akan menggangu seluruh system tersebut. Sebagai contoh, guru harus selalu membuat dan melihat persiapan setiap mau melaksanakan acara pembelajaran., serta merevisi sesuai dengan kebutuhan akseptor didik, dan perkembangan zamannya.
Harus selalu diingat mengajar tampa persiapan merupakan jalan pintas, dan tindakan yang berbahaya, yang sanggup merugikan perkembangan akseptor didik, dan mengancam kenyamanan guru.

2.  Menunggu Peserta Didik Berperilaku Negative
Dalam pembelajaran di kelas, guru berhadapan dengan sejumlah akseptor didik yang semuanya ingin diperhatikan. Peserta didik akan berkembang secara optimal melalui perhatian guru yang positif , sebaliknya perhatian yang negative akan menghambat perkembangan akseptor didik. Mereka bahagia jikalau m;endapat kebanggaan dari guru dan merasa kecewa jikalau kurang diperhatikan .

Namun sayang kebanyakan guru terperangkap dengan pemahaman yang keliru perihal mengajar, mereka menganggap mengajar yaitu memberikan maateri kepada akseptor didik, mereka juga menganggap mengajar yaitu memberika pengetahuan kepada akseptor didik. Tidak sedikit guru yang sering mengabaikan perkembangan kepribadian akseptor didik, serta lupa memberikan kebanggaan kepada mereka yang berbuat baik, dan tidak membuat masalah.

 Biasanya guru gres memberikan perhatian kepada akseptor didik ketika rebut, tidur dikelas, tidak memperhatikan pelajaran, sehingga menunggu akseptor didik berperilaku buruk. Kondisi tersebut sering kali mendapat tanggapan yang salah dari akseptor didik, mereka beranggapan bahwa untuk mendapat perhatian dari guru harus berbuat salah, burbuat gaduh, menganggu atau melaksanakan tindakan tidak disiplin lainnya. Seringkali terjadi perkelahian pelajar hanya  lantaran mereka tidak mendapat perhatian, dan meluapkannya melalui perkelahian. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kebanyakan akseptor didik tidak tahu bagaimana cara yang sempurna untuk mendapat perhatian dari guru, orang tua, dan masyarakat sekitarnya, tetapi mereka tahu cara menggangu teman, membuat keributan, serta perkelahian, dan ini kemudian yang mereka gunakan untuk mendapat perhatian.

 Guru perlu mencar ilmu untuk menangkap sikap positif yang ditunjukan oleh para akseptor didik, kemudian segera memberi hadiah atas prilaku tersebut dengan kebanggaan dan perhatian. Kedengarannya hal ini sederhana. tetapi memerlukan upaya sungguh-sungguh untuk tetap mencari dan member hadiah atas perilaku-perilaku positif akseptor didik, baik secara kelompok maupun individual.
Menghargai sikap akseptor didik yang postif sungguh memmberikan hasil nyata. Sangat efektif jikalau kebanggaan guru pribadi diarahkan kepada sikap khusus dari pada hanya diekspresikan dengan pernyataan positif yang sifatnya sangat umum. Sangat efektif guru berkata “termakasih kalian telah mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh” daripada “kalian sangat baik hari ini”
Disisi lain, guru harus memperhatikan perilaku-perilaku akseptor didik yang negatf, dan mengeliminasi perilaku-perilaku tersebut semoga tidak terulang kembali. Guru bisa mencontohkan banyak sekali sikap akseptor negatif , contohnya melalui ceritera dan ilustrasi, dan memberikan kebanggaan kepada mereka lantaran tidak melaksanakan sikap negative tersebut. Sekali lagi “Jangan menunggu akseptor didik berperilaku negative”.


3. Menggunakan Destructive Disclipline
Akhir-akhir ini banyak sikap negatif yang dilakukan oleh para akseptor didik, bahkan melampaui batas kewajaran dikarenakan telah menjurus pada tindak melawan hokum, melanggar tata tertib, melanggar norma agama, criminal, dan telah membawa akhir yang sangat merugikan masyarakat. Demikian halnya dengan pembelajaran, guru akan mengahadapi situasi-situasi yang menuntut guru harus melaksanakan tindakan disiplin.

 Seperti alat pendidikan lain, jikalau guru tidak mempunyai planning tindakan yang benar, maka sanggup melaksanakan kesalahan yang tidak perlu. Seringkali guru memberikan eksekusi kepada akseptor didik tanpa melihat latar belakang kesalahan yang diperbuat, tidak jarang  guru memberikan eksekusi diluar batas kewajaran pendidikan, dan banyak guru yang memberikan eksekusi kepada akseptor didik tidak sesuai dengan jenis kesalahan.

 Dalam pada itu seringkali guru memberikan tugas-tugas yang harus dikerjakan akseptor didik diluar kelas (PR), namun jarang sekali guru yang mengoreksi pekerjaan akseptor didik dan mengembalikannya dengan banyak sekali komentar, kritik dan saran untuk kemajuan akseptor didik. Yang sering dialami akseptor didik yaitu guru sering memberikan kiprah , tetapi tidak pernah memberi umpan balik terhadap tugas-tugas yang dikerjakan. Tindakan tersebut merupakan upaya pembelajaran dan penegakan disiplin yang destruktrif, yang sangat merugikan perkembangan akseptor didik.


Bahkan tidak jarang tindakan destructive disclipline yang dilakukan oleh guru mengakibatkan kesalahan yang sangat fatal yang tidak hanya mengancam perkembangan akseptor didik, tetapi juga mengancam keselamatan guru. Di Jawa Timur pernah ada perkara seorang akseptor didik mau membunuh gurunya dengan seutas tali raffia, hanya gara-gara gurunya memberikan coretan-coretan merah pada hasil ulangannya.

 Kesalahan-kesalaha menyerupai yang diuraikan diatas sanggup mengakibatkan penegakan disiplin menjadi kurang efektif, dan merusak kepribadian dan harga diri akseptor didik. Agar guru tidak melaksanakan kesalahan-kesalahan dalam menegakkan disiplin ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :
  • Disiplinkan akseptor didik ketika anda dalam keadaan tenang
  • Gunakan disiplin secara sempurna waktu dan sempurna sasaran
  •  Hindari menghina dan mengejek akseptor didik
  • Pilihlah eksekusi yang bisa dilaksanakan secara tepat
  •  Gunakan disiplin sebagai alat pembelajaran.

4. Mengabaikan Perbedaan Peserta Didik
Kesalahan berikutnya  yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran yaitu mengabaikan perbedaan individu akseptor didik. Kita semua mengetahui setiap akseptor didik mempunyai perbedaan yang sangat fundamental yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran. Peserta didik mempunyai emosi yang sangat bervariasi, dan sering memperlihatkan sejumlah sikap yang tampak aneh. Pada umumnya perilaku-perilaku tersebut cukup normal dan sanggup ditangani dengan membuat pembelajaran yang kondusif. Akan tetapi lantaran guru disekolah dihadapkan pada sejumlah akseptor didik, guru seringkali sulit untuk membedakan mana sikap yang masuk akal atu normal dan mana sikap yang indisiplin dan perlu penanganan khusus.

Setiap akseptor didik mempunyai perbedaan yang unik, mereka mempunyai kekuatan, kelemahan, minat, dan perhatian yang berbeda-beda. Latar belakang keluarga, latar belakang social ekonomi, dan lingkungan, membuat akseptor didik berbeda dalam aktifitas, kreatifitas, intlegensi, dan kompetensinya. Guru seharusnya sanggup mengidentifikasi perbedaan individual akseptor didik, dan menetapkan karakteristik umum yang menjadi cirri kelasnya, dari ciri-ciri individual yang menjadi karakteristik umumlah seharusnya guru memulai pembelajaran. Dalam hal ini, guru juga harus memahami ciri-ciri akseptor didik yang harus dikembangkan dan yang harus diarahkan kembali.
Sehubungan dengan uraian diatas, aspek-aspek akseptor didik yang peru dipahami guru antara lain: kemampuan, potensi, minat, kebiasaan, hobi, sikap, kepribadian, hasil belajar, ctatan kesehatan, latar belakang sekolah dan kegiatannya disekolah. Informasi tersebut sanggup dieroleh dan dipelajari dari laporan atau catatan sekolah, warta dai akseptor didik lain (teman dekat), observasi pribadi dalam situasi kelas, dan dalam banyak sekali acara lain di luar kelas, serta warta dari akseptor didik itu sendiri melalui wawancara, percakapan dan autobiografi.

 5. Merasa Paling Pandai
Kesalahan lain yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran yaitu merasa paling arif dikelas. Kesalahan ini berangkat dari kondisi bahwa pada umumnya para akseptor didik disekolahnya relative lebih muda dari gurunya, sehingga guru merasa bahwa akseptor didik tersebut lebih kurang arif disbanding dirinya, akseptor didik dipandang sebagai gelas yang perlu di isi air ke dalamnya. Perasaan ini sangat menyesatkan , lantaran dalam kondisi menyerupai kini ini akseptor didik sanggup mencar ilmu melalui internet dan banyak sekali media massa, yang mungkin guru belum menikmatinya.
Hal ini terjadi terutama di kota-kota besar, ketika akseptor didik tiba dari keluarga kaya yang dirumahnya mempunyai sarana dan prasarana yang lengkap, serta berlangganan Koran dan majalah yang mungkin lebih dari satu edisi, sedangkan guru belum memilikinya. Denan demikian akseptor didik yang mencar ilmu mungkin saja lebih arif daripada guru. Jika ini terjadi maka guru harus demokratis untuk bersedia mencar ilmu kembali, bahkan mencar ilmu dari akseptor didik sekalipun, atau saling membelajarkan. Dalam hal ini guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat, yang senantiasa menyesuaikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan perkembangan yang terjadi dimasyarakat. Jika tidak, maka akan ketinggalan kereta, bahkan disebut guru ortodok.

6. Diskriminatif
Pembelajaran ynag baik dan efektif yaitu yang bisa memberi akomodasi mencar ilmu secara adil dan merata (tidak diskriminatif), sehingga akseptor didik sanggup berbagi potensinya secara optimal. Keadilan dalam pembelajaran meupakan kewajiban guru dan hak akseptor didik untuk memperolehnya. Dalam prakteknya banyak guru yang tidak adil, sehingga merugikan perkembangna akseptor didik, dan ini merupakan kesalahan guru yang sering dilakukan , terutama dalam penilaian. Penilaian merupakan upayakan untuk memberikan penghargaan kepada akseptor didik sesuai dengan perjuangan yang dilakukannya selama proses pembelajaran.
Oleh lantaran itu, dalam memberikan penilaian harus dilakukan secara adil, dan benar-benar merupakan cermin dari sikap akseptor didik. Namun demikian tidak sedikit guru yang menyalahgunakan penilaian, contohnya sebagai ajang untuk balas dendam, atau ajang untuk menyalurkan kasih saying diluar tanggung jawabnya sebagai seorang guru.
Lagu berikut ini mencerminkan guru yang menyalahgunakan penilaian, lagu ini popular pada tahun 1970-an terutama di kalangan siswa perempuan. Berikut syair lagunya:
Ketika saya masih sekolah
Ku punya guru sangatlah muda
Orangnya baik padaku
Apa sebabnya saya tak tahu


Kawan-kawanku tahu semua
Aku bukanlah anak yang pandai
Tapi mereka heran padaku

Nilai raportku baik selalu


Akhirnya kawan-kawanku tahu
Pak  guru itu cinta padaku
            Jika dimati dengan teliti, syair-syair lagu tersebut memperlihatkan ketidakadilan guru dalam memberikan penilaian, betapa seorang guru telah menyalahgunakan penilaian, hanya lantaran perasaan “C.I.N.T.A nya kepada akseptor didik tertentu. Hal ini dari dulu hingga kini masih sering dilakukan oleh guru terutama guru muda.
      Sebagai seorang guru, tentu saja harus bisa menghidarkan hal-hal yang sanggup merugikan perkembanan akseptor didik. Tidak ada yang melarang seorang guru “mencintai” akseptor didiknya, tetapi bagaimana menempatkan cintanya secara proporsional, dan jangan mencampuradukkan antara urusan pribadi dengan urusan professional. Usaha yang sanggup dilakukan untuk menghindarinya yaitu dengan cara menyimpan “perasaan” hingga akseptor didik yang  dicintai menuntaskan jadwal pendidikannya, tentu saja harus tulus dan jangan takut diambil orang.

7. Memaksa hak akseptor didik
Memaksa hak akseptor didik merupakan kesalahan yang sering dilakukan guru, sebagai akubat dari kebiasaan guru berbisnis dalam pembelajaran, sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapat keuntungan.  Guru boleh saja mempunyai pekerjaan sampingan, memperoleh penghasilan tambahan, itu sudah menjadi haknya, tetapi tindakkan memaksa bahkan mewajibkan akseptor didik untuk membeli buku tertentu sangat fatal serta kurang bisa digugu dan ditiru. Sebatas memperlihatkan boleh saja, tetapi kalau memaksa kasihan bagi orangtua yang tidak mampu.
Kondisi semacam ini sering kali membuat prustasi akseptor didik, bahkan di Garut pernah pernah ada akseptor didik bunuh diri hanya lantaran dipaksa untuk membeli alat pelajaran tertentu oleh gurunya. . Kerna akseptor didik tersebut tidak mempunyai uang atau tidak bisa ia nekat bunuh diri. Ini teladan akhir fatal dari guru yang suka berbisnis disekolah dengan memaksa akseptor didiknya untuk membeli. Hindarilah, ingat sebagai guru akan diminta pertanggungjawaban di akhirat. Di dunia honor tidak seberapa, jangan kotori laba darul abadi dengan menodai profesi. Niatkan menjadi guru sebagai ibadah. Jadikan pekerjaan guru sebagai ladang amal yang akan dipanen akhirnya kelak diakhirat. Percayalah, dan tanyakan pada hati nurani. Jangan mengambil laba sesaat, tetapi menyesatkan. Sadarlah wahai guru, semoga namamu selalu sejuk dalam sanubariku. Demikianlah klarifikasi E. Mulyasa mengenai 7 Kesalahan Yang Sering Dilakukan Guru Dalam Pembelajaran.
Sedangkan berdasarkan  Dr. Wina Sanjaya ( 2005 : 70 ) menyebutkan ada 4 kekeliruan dalam proses mencar ilmu mengajar yang dilakukan oleh guru yaitu :
  1. Ketika mengajar, guru tidak berusaha mencari informasi, apakah materi yang diajarkannya sudah dipahami oleh siswa atau belum.
  2. Dalam proses mencar ilmu mengajar guru tidak berusaha mengajak berpikir kepada siswa. Komunikasi bisa terjadi satu arah, yaitu dari guru ke siswa. Guru menganggap bahwa bagi siswa menguasai materi pelajaran lebih penting dibandingkan dengan berbagi kemampuan berpikir.
  3. Guru tidak berusaha mencari umpan balik mengapa siswa tidak mau mendengarkan penjelasannya.
  4. Guru menganggap bahwa ia yaitu orang yang paling bisa dan menguasai pelajaran dibandingkan dengan siswa. Siswa dianggap sebagai " tong kosong " yang harus diisi dengan sesuatu yang dianggapnya sangat penting.

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

Tidak ada komentar