Pelajaran Matematika Kelas 5 Wacana Cara Menghitung Pembulatan Dan Penaksiran

September 26, 2018
Dalam kehidupan sehari-hari, kita jarang melaksanakan perhitungan sebenarnya. Kita sering memakai kata kira-kira. Artinya, kita sering melaksanakan penafsiran. Penafsiran sering dilakukan dengan pembulatan. Ketentuan pembulatan, yaitu:
a. angka di bawah 5 dibulatkan ke bawah,
b. angka di atas atau sama dengan 5 dibulatkan ke atas.
Dalam kehidupan kita juga sering berhadapan dengan jumlah, baik berupa uang, barang, atau lainnya. Misalnya, jumlah penduduk Indonesia berdasarkan sensus tahun tertentu, jumlah kerugian jawaban peristiwa alam, korban meninggal, laba dan kerugian perusahaan, dan lain sebagainya. Jumlah tersebut adakalanya berupa bilangan-bilangan yang dibulatkan dalam nilai tertentu.

Berdasarkan pernyataan di atas, kita perlu mengerti bagaimana cara melaksanakan pembulatan bilangan pada nilai tertentu yang mendekati nilai tersebut, contohnya satuan, puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya.
Contoh:
a. 34 dibulatkan ke puluhan terdekat = 30
Oleh sebab satuan yang akan dibulatkan 4 (kurang dari 5). Maka dari itu dibulatkan ke bawah (dianggap hilang).
b. 86 dibulatkan ke puluhan terdekat = 90
Oleh sebab satuan yang akan dibulatkan 6 ( lebih dari 5). Maka dari itu, dibulatkan ke atas (dianggap 10).
c. 167 dibulatkan ke ratusan terdekat = 200
Oleh sebab puluhan yang akan dibulatkan 6 (lebih dari 5). Maka dari itu, dibulatkan ke atas (dianggap 100).
d. 1.259 dibulatkan ke ribuan terdekat = 1.000
Oleh sebab ratusan yang akan dibulatkan 2 (kurang dari 5). Maka dari itu, dibulatkan ke bawah (dianggap hilang).
e. 15.720 dibulatkan ke puluhan ribu terdekat = 20.000

Oleh sebab ribuan yang akan dibulatkan 5. Maka dari itu, dibulatkan ke atas (dianggap 10.000).
f. 178.000 dibulatkan ke ratusan ribu terdekat = 200.000
Oleh sebab puluhan ribu yang akan dibulatkan 7, lebih dari 5. Maka dari itu, dibulatkan ke atas (100.000).
1. Membulatkan Bilangan ke dalam Satuan Terdekat
Membulatkan bilangan ke dalam satuan terdekat biasanya apabila bilangan tersebut memiliki bilangan desimal (angka di belakang koma) baik satu angka ataupun lebih. Misalnya:
  • 5,5 
  • 6,25
  • 12,75
  • 150,125 dst..
Membulatkan bilangan desimal ke satuan terdekat yakni dengan cara dihilangkan apabila nilai bilangan desimal tersebut ada di bawah 5 (4, 3, 2, 1) dan menarik pada angka satuan di atasnya apabila bilangan desimal tersebut bernilai 5 atau lebih ( 5, 6, 7, 8, 9 ).
Contoh:
4,3 dibulatkan menjadi 4
5,5 dibulatkan menjadi 6
8,75 dibulatkan menjadi 9
9,45 dibulatkan menjadi 9
6,25 dibulatkan menjadi 6
2. Membulatkan Bilangan ke dalam Puluhan Terdekat 
Pembulatan bilangan ke dalam puluhan terdekat dilakukan dengan cara dihilangkan apabila nilai bilangan satuannya ada di bawah 5 (4, 3, 2, 1) dan menarik pada angka puluhan di atasnya apabila bilangan satuan tersebut bernilai 5 atau lebih ( 5, 6, 7, 8, 9 ).
Contoh:
43 dibulatkan menjadi 40
54 dibulatkan menjadi 50
875 dibulatkan menjadi 880
942 dibulatkan menjadi 940
625 dibulatkan menjadi 630
3. Membulatkan Bilangan ke dalam Ratusan Terdekat
Pembulatan bilangan ke dalam ratusan terdekat dilakukan dengan cara dihilangkan apabila nilai bilangan puluhan yang ada pada bilangan tersebut di bawah 50 (40, 30, 20, 10) dan menarik pada angka ratusan di atasnya apabila bilangan puluhan tersebut bernilai 50 atau lebih ( 50, 60, 70, 80, 90 ).
Contoh:
430 dibulatkan menjadi 400
540 dibulatkan menjadi 500
875 dibulatkan menjadi 900
2.942 dibulatkan menjadi 2.900
1.625 dibulatkan menjadi 1.600
Nah, kita telah mempelajari pembulatan bilangan, baik ke dalam satuan terdekat, puluhan terdekat, dan ratusan terdekat. Antara penaksiran dan pembulatan sangat erat kaitannya, sebab kita sanggup menaksir hasil operasi hitung tidak lepas dari pembulatan setiap suku maupun hasil operasi hitung tersebut. Dalam menaksir hasil operasi hitung bilangan bundar kita sanggup memakai aneka macam macam taksiran di antaranya taksiran rendah, taksiran tinggi, dan taksiran sedang.
• Taksiran Rendah
Menaksir hasil operasi hitung memakai taksiran rendah, yaitu dengan cara membulatkan semua suku dalam operasi hitung ke dalam pembulatan tertentu yang ada di bawahnya, baik ke dalam puluhan, ratusan, atau ribuan.
Contoh:
24 + 37 angka taksiran rendah menjadi 20 + 30 = 50
235 + 477 angka taksiran rendah menjadi 200 + 400 = 600
64 – 26 angka taksiran rendah menjadi 60 – 20 = 40
765 – 245 angka taksiran rendah menjadi 700 – 200 = 500
24 x 37 angka taksiran rendah menjadi 20 x 30 = 600
36 x 256 angka taksiran rendah menjadi 30 x 200 = 6.000
565 : 28 angka taksiran rendah menjadi 500 : 20 = 25
• Taksiran Tinggi
Menaksir hasil operasi hitung memakai taksiran tinggi, yaitu dengan cara membulatkan semua suku dalam operasi hitung ke dalam pembulatan tertentu yang ada di atasnya, baik ke dalam puluhan, ratusan, atau ribuan.
Contoh:
24 + 37 taksiran tinggi menjadi 30 + 40 = 70
235 + 477 taksiran tinggi menjadi 300 + 500 = 800
64 – 26 taksiran tinggi menjadi 70 – 30 = 40
765 – 245 taksiran tinggi menjadi 800 – 300 = 500
24 x 37 taksiran tinggi menjadi 30 x 40 = 1.200
36 x 256 taksiran tinggi menjadi 40 x 300 = 12.000
565 : 28 taksiran tinggi menjadi 600 : 30 = 200
• Taksiran Sedang
Taksiran sedang merupakan taksiran yang sering digunakan, sebab hasil taksiran ini hampir mendekati hasil yang sebenarnya. Dalam menaksir hasil operasi hitung memakai taksiran sedang, yaitu dengan cara membulatkan semua suku dalam operasi hitung ke dalam pembulatan tertentu yang paling akrab ada di bawah atau di atasnya, baik ke dalam puluhan, ratusan, atau ribuan.
Contoh
24 + 37 taksiran sedang menjadi 20 + 40 = 60
235 + 477 taksiran sedang menjadi 200 + 500 = 700
64 – 26 taksiran sedang menjadi 60 – 30 = 30
765 – 245 taksiran sedang menjadi 800 – 200 = 600
24 x 37 taksiran sedang menjadi 20 x 40 = 800
36 x 256 taksiran sedang menjadi 40 x 300 = 12.000
565 : 28 taksiran sedang menjadi 600 : 30 = 200
Terdapat perbedaan hasil antara taksiran rendah, tinggi, dan sedang. Untuk selanjutnya akan lebih sempurna apabila yang kita pergunakan di sini ialah taksiran sedang, sebab hasil taksirannya yang paling mendekati hasil yang sebenarnya.

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

Tidak ada komentar